Sang Pendidik Anti Hoax

Penyebar Hoax Bertekuk Lutut Ditangan Pendidik

“Kabar gembira bagi guru seluruh Indonesia….Bahwa dalam rangka memperingati HUT PGRI, semua guru PNS akan mndapatkan gaji dua kali lipat. Tidak hanya itu, para Guru Non PNS juga akan mendapat Dana Tunjangan sebesar dua juta rupiah sebagai reward dari pemerintah atas pengabdianya selama ini di dunia pndidikan. Segera beritakan kepada yang lain agar bahagia”

Jika saja kabar diatas adalah kabar yang valid dari pemerintah, tentu semua guru di Indonesia akan tersenyum bahagia. Sayang sekali, berita diatas adalah contoh berita hoax. Kata hoax sendiri berarti kajadian yang tidak benar tetapi dianggap seolah-olah benar (Wikipedia) .

Di lingkungan pendidikan sendiri kita sering menjumpai informasi hoax melalui WA misalnya informasi TPG yang akan cair dua kali lipat, Pengangkatan PNS masal dengan membayarkan uang sekian juta dll. Kecanggihan teknologi sekarang memang luar biasa sehingga segala informasi bisa cepat tersebar dalam hitungan detik melalui media sosial seperti WA, Facebook, Twiter, Instagram, dll.

Agar kita tidak tertipu oleh berita hoak, sebaiknya ketika kita menerima suatau bertia, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengecek kebenaran berita tersebut kepada pimpinan kita. Misalnya seorang guru mendapatkan info bahwa dalam rangka HUT PGRI TPG cair dua kali lipat. Maka kita bsa cek kepada kepala madrasah apakah berita tersebut benar atau tidak. Kepala madrasah bisa menanyakan kepada Kantor Kementrian Agama/Kemendigbud, jika berita tersebut tidak benar, maka berita tersebut adalah berita hoak.

Kemudian apabila kita membaca berita di internet, maka ada beberapa cara , pertama mengecek sumber berita tersebut. Kedua, meneliti keaslian foto (apabila berita tersebut berupa foto). Ketiga tetap tenang dan jangan mudah terprovokasi. Keempat melaporkan link berita tersebut kepada pihak yang berwajib jika berita tersebut terbukti hoak.

Berita hoax bisa diidentifikasi dari hal-hal berikut:

1.Tidak ada sumber yang jelas.

Berita yang valid akan mencantumkan sumber yang jelas. Misalnya dari Kementrian Agama, dari Kemendigbud atau yang lain.

2.Tidak ada deadline yang jelas.

Deadline pasti ada dalam suatu berita, apalagi jika berita seperti diatas, maka harusnya mencantumkan tanggal dan bulan pencairan dana tersebut.

3. Mendramasitir berita
Berita yang valid biasanya tidak neko-neko. Bersifat resmi.

4. Berisi perintah untuk segera menyebarkan sebanyak-banyknya info tersebut.

Berita resmi, jika ada perintah penyebaran maka akan ditujukan kepada pihak terkait. Misalnya dari Kantor Kementrian Agama kaitanya dengan pemutahiran data EMIS, maka perintahnya dikhusukan untuk operator EMIS saja, tidak diinformasikan kepada semua guru. Biasanya diinfokan melalui group WA operator EMIS Madrasah.

Hoak tidak hanya merugikan pribadi akan tetapi bisa merambah ke semua sendi kehidupan manusia, baik bidang pendidikan, ekonomi, politik, social dan keagamaan. Apabila hoax telah menjadi isu nasional, maka bisa berbahaya bagi kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apalagi jika informasi hoax tersebut telah menjadi berita intrnasional, maka tidak menutup kemungkinan seluruh dunia akan terkena imbasnya.

Berikut beberapa bahaya hoax
1. Hoax adalah alat pemecah persatuan.

Hoak bisa mnjadi alat pemcah persatuan. Bagaimana tidak, jika ada pihak A yang tidak suka dengan pihak B, kemudian pihak A menyebarkan fitnah (Hoax), ajakan kebencian untuk membenci pihak B, dan berita tersebut telah menjadi berita lokal maupun nasional, bisa dibayangkan hancurnya persatuan para pendukung pihak A dan B.

2. Hoax adalah peresah masyarakat
Suasana yang tenang dan damai, tiba tiba dihebohkan oleh berita hoax. Itulah yang sering terjadi ahir-ahir ini. Bahkan begitu hebatnya berita hoak, ada sekelompok masyarakat yang awalnya tidak tau apa-apa tiba tiba dikambinghitamkan atas berita tersebut.

3. Hoax adalah pemicu pembunuhan.
Sering kita mendengar berita baik di televisi maupun media sosial bahwa maraknya pembunuhan disebabkan karena fitnah (berita hoax). Bahkan terkadang ssorang yang tidak tau menau bisa jadi korban pembunuhan disebabkan oleh pihak tertentu yang ingin mendapatkan keuntungan.

4. Hoax adalah penipuan permanen

Jika berita hoax tidak segra diikuti dengan berta yang benar maka berta hoax tersebut akan menjadi permanen atau kesalahan yang dianggap sebagai kebenaran yang berkelanjutan.

5. Hoax penghilang karakter bangsa Indonesia.
Diantara karakter bangsa Indonesia adalah ramah, santun, jujur, suka bermusyawarah dan bertanggungjawab. Apabila kita tidak bersikap tegas terhadap hoax, maka hoax akan menjadi budaya yang akan menghilangkan karakter bangsa itu sendiri.

6. Hoax bertentangan dengan agama.
Berkata bohong dilarang dalam Islam. Sebaliknya, selalu berkata jujur, itulah yang selalu diajarkan dalam Islam sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu jika ada yang membuat atau menyebarkan berita bohong (hoax) maka tindakan tersebut berarti bertentangan dengan agama.

Mengingat begtu besar bahaya hoax maka menyatakan perang terhadp hoax adalah solusi yang paling cerdas untuk saat ini. Contohnya ketika saya menangani masalah kesiswaan. Pengalaman ini terjadi ketika saya mendapat info dari seorang warga yang melaporkan bahwa salah satu siswa saya telah mencuri ayam di rumah warga. Anak tersbut ahirnya saya panggil beserta orangtuanya. Setelah informasi dari siswa dan orangtua saya dapat, saya kroscekan informasinya dengan laporan dari warga.

Karena infonya masih bertentangan, kemdian saya memerinthkan wali kelas untuk menghadirkan saksi dalam perstiwa pencurian ayam tersebut. Dan setelah saksi dihadirkan alhamdulillah siswa saya terbukti tidak brsalah. Untung saya berhati-hati dalam menerima berita, jika tidak mungkin saya akan merasa bersalah karena telah memberikan hukuman kepada siswa saya.

Ada pengalaman yang lebih menegangkan dari itu. Pada tahun ajaran baru 2015/2016, jumlah peserta didik baru di madrasah kami menurun. Setelah kami evaluasi penyebab dari menurunya peminat kepada madrasah kami, ternyata ada berita yang telah tersebar di masyarakat bahwa siswa yang bersekolah di madrasah kami akan kesurupan jin/roh halus. Informasi inipun segera kami tindak lanjuti. Memang benar di madrasah kami ada dua siswa yang sering pingsan, akan tetapi itu bukan karena kesurupan. Dokter mengatakan siswa tersebut mempunyai gejala jantung dan sangat peka terhadap perasaan sedih.

Alhamdulillah, untuk tahun ajaran berikutnya siswa baru yang masuk ke madrasah kami mengalami peningkatan lagi.
Tentu kita bertanya-tanya mengapa ada pihak yang sengaja menyebar berita hoax? Tahukah anda setiap kita mengklik berita di media sosial maka akan ada keuntungan bagi pemlik situs berita. Salah satu cara agar situsnya banyak dikunjungi adalah dengan menyebar beirta yang sedang berkembang meskipun berita tersebut hoax agar dengan cepat akan menjadi berita viral.

Jika berta sudah viral, maka akan banyak sekali pengunjung. Nah semakin banyak yang mengeklik maka akan semakin banyak keuntungan yang didapatkan oleh pemlik akun. Selain itu, pengaruh millennium ketiga dimana manusia cenderung bersifat hedonis dan sekuler, disitulah manusia akan melakukan apa saja asal mendapat keuntungan, termasuk menyebar berita hoax.

Saya pribadi selaku pendidik selalu mengajak kepada siswa, guru dan keluarga untuk menyatakan perang terhadap hoax. Di madrasah misalnya, di Mading dan setiap kelas,saya tempel artikel Anti Hoax, saya berikan penyuluhan anti hoax dan saya selalu berusaha menekankan untuk selalu berkata jujur sesuai tuntunan agama. Kepada guru, saya juga mengajak untuk tidak gampang terprovokasi oleh berita-berita, baik di media sosial maupun di lingkungan internal yang akan merusak keharmonisan di madrasah.

Sudah saatnya, kita sebagai pendidik menjadi penjaga paling depan dalam menjaga keutuhan karakter bangsa. Jika pendidik mampu menjadi tauladan bagi siswa maupun masyarakat sekitarnya sebagaimana pepatah jawa mengatakan, guru, digugu lan ditiru, maka bisa dipastikan masyarakat Indonesia akan bersikap cerdas dan tidak mudah terprovokasi dalam menerima berita.. Saya yakin, mutiara akan tetap bersinar meski dalam kotoran dan tiada gading yang tak retak. Kebohongan akan terungkap oleh kebenaran. Oleh karena itu, mari kita mulai dari kita sendiri untuk berkata benar meskipun pahit dan berkata benar meski teman sedikit. Hidup Pendidik. Lawan Hoax!!